Rabu, 28 Mei 2008

Kuratorial Mogus World by Maradita Sutantio

Moel, dan Dunia MOGUS.

Hal pertama yang terlintas pertama kali ketika melihat MOGUS; monster gurita ciptaan Moel (sapaan akrab Mulyana), adalah sosok gurita imajiner dengan bentuk dan anggota tubuh yang familiar sekaligus terasa asing.
MOGUS seolah membawa suatu pesan misteri tertentu yang ingin disampaikan Moel secara naratif dengan penuh keceriaan dan sedikit berkesan halusinatif.
Saya seolah ‘dipaksa’ (dengan sukarela) untuk memasuki ilusi dunia bawah air yang Moel ciptakan, mahluk-mahluk tersebut seolah dibuat bernyawa dan dapat berinteraksi. MOGUS digarap Moel sebagai perpanjangan ekspresinya untuk berinteraksi dan berekspresi, mengantikan sosok Moel sebenarnya.
Bila tidak bertemu langsung dengan Moel, rasanya sulit dipercaya bila seniman yang membuatnya adalah seorang lelaki. Moel mengolah material benang, yang notabene merupakan material yang sangat feminin. Bagaimana mungkin laki-laki bisa memiliki kesabaran dan kepekaan sedemikian rupa?

Reinterpretasi Gurita

Pada jaman prehistoric, ornament gurita muncul dalam artefak-artefak berbentuk vas dan pot. Dalam dunia mitologi, gurita di-impresentasi-kan sebagai “water demon” (monster air), seperti misalnya di Hawaii, Yunani, Babylonia, Norwegia dan Islandia.
Kaum fasis pada perang dunia II digambarkan sebagai gurita yang sedang berusaha menjangkau kontrol atas seluruh wilayah Eropa. Selain itu, simbol yang sama digunakan pula oleh Hitler, sebagai penggambaran kuasa nazi atas kontrol konspirasi Yahudi. Di Indonesia, belum lama ini kita juga mengenal istilah “Gurita Cikeas”. Kebanyakan, simbol gurita digunakan sebagai metafora berkonotasi negatif, dan mengandung propaganda.
Dengan cukup sederhana, Moel menolak paradigma selama ini, Moel lebih memilih untuk menyerap makna positif gurita dibalik segala konotasi negatifnya. Moel me-reinterpretasikan makna baru gurita pada karyanya.
Gurita tinggal di air, memiliki bentuk dasar tabung silinder dengan 8 (delapan) lengan yang panjang dan meliuk-liuk menyerupai bentuk spiral. Bila dimaknai secara simbolis, gerakan gurita memikat (mezmerising) dan menghanyutkan. Ia misterius dan sangat cerdas.
Semakin dalam kita berusaha mengobservasi suatu misteri, kita diajak untuk semakin menguatkan diri menghadapi kenyataan. Ia mengingatkan kita untuk terus bergerak maju mencapai tujuan kita.

Benang dan Amigurumi

Benang merupakan material utama Moel dalam berkarya, Moel melihat adanya kekuatan berevolusi pada seutas benang. Benang yang rapuh dapat berubah menjadi bentuk apapun ketika diolah oleh tangan yang tepat. Sama seperti seorang individu, yang bila ‘belajar’ dalam jalur yang benar, individu tersebut akan menjadi lebih baik.
Secara teknis, MOGUS dikerjakan dengan teknik dasar hand knitting/ crochet (rajut). Istilah spesifik untuk teknik yang digunakan Moel disebut Amigurumi. Amigurumi merupakan salah satu teknik seni merajut dari Jepang. Ami, berarti rajut/mengaitkan benang, sedangkan nuigurumi berarti karakter lucu/ boneka/ mainan (biasanya bentuk binatang).
Bagi yang tidak terlalu akrab dengan istilah tekstil, tentunya Amigurumi terdengar sangat asing. Namun, istilah ini tidak serumit namanya. Amigurumi terbentuk dari jalinan benang yang sangat dasar dalam merajut, disebut single crochet stitch.
Figur MOGUS, dibuat dengan pola sederhana. Moel mengkait-kaitkan benang dengan teknik single crochet stitch-nya secara melingkar terus menerus hingga membentuk tabung silinder. Bentuk silinder ini-lah yang merupakan bentuk dasar MOGUS.

Where is MOGUS?

Dimana posisi MOGUS dalam dunia senirupa?
Seperti kita tahu, jarak dan perbedaan antara fine art, dengan craft (seharusnya) telah hilang, sejak ditandai oleh art and craft movement. Galeri dan museum di luar Indonesia kerap kali mengadakan pameran dengan material tekstil/serat (material flexible sejenis). Karya-karya tersebut dikenal dengan istilah soft sculpture.
Beberapa jenis karya soft sculpture, misalnya pada karya Luke Roberts yang berupa sosok-sosok boneka dengan judul “All Soul of The Evolution” (1976), atau pada karya Jenny Christmann “20 Wollen Books” (1977) yang menggunakan teknik rajut dan material benang. Selain itu, masih banyak contoh soft sculpture lainnya, terutama oleh Yayoi Kusama.
Tidak kalah, di Indonesia pun sudah cukup marak seniman-seniman yang berkarya dengan material tekstil berupa soft scuptlure. Nuri Fatima, dan Caroline Rika, misalnya. Dua seniman tersebut merupakan 2 (dua) contoh kecil dari sekian banyak seniman yang mengolah material tekstil (serat) dalam berkarya.
Saya percaya dengan konsistensi dan kualitas karya seorang seniman akan mengedukasi serta menginformasikan masyarakat penikmat/pelaku seni, akan posisi karya seni dengan material tekstil/serat seperti ini.

Moel, Dunia sadar dan tidak sadar.

Nilai-nilai spiritual tertanam dengan sangat kuat dalam benak Moel. Sebelum Moel melanjutkan kuliah di UPI, Moel sempat menempuh pendidikan pada sebuah pondok pesantren modern. Selain itu, keluarga Moel juga saya kira cukup religius dalam mendidik Moel, sosok sang ayah kerap mengingatkan Moel untuk terus berdoa dan berbuat baik. Hingga akhirnya, dengan sadar dan tidak sadar, latar belakang inilah yang menjadi akar dan ruh Moel dalam berkarya.
Seorang seniman yang berkarya atas dasar pengalaman dan akar-akar yang tertanam sangat kuat dalam dirinya,tentu merupakan hal ini sangat lazim. Pengalamanlah yang menjadikan suatu karya bernilai dan bermakna.
Pengalaman pula yang membedakan karya yang ‘bernyawa’ dengan karya yang ‘kosong’.

MOGUS IN CHARGE!

‘Doa’ yang merupakan nasihat dari sang Ayah, tercurah dalam tiap kaitan benang yang saling terjalin membentuk sosok MOGUS.
Yang menarik disini adalah terjadinya proses berulang/repetitif ketika benang saling terkait. Hal ini mengingatkan saya akan proses zikir, yang sepengetahuan saya dalam agama yang Moel yakini, hal tersebut merupakan doa berulang untuk selalu mengingat kebesaran Tuhan.
Setidaknya bagi diri Moel, proses ini menyerupai proses terapi untuk membuat dirinya nyaman ketika harus beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya. Dengan niat awal untuk memanjatkan doa-doa dan syukur, sosok MOGUS ini berubah fungsi menjadi sebuah totem tersendiri bagi Moel. Totem yang bertugas untuk mengingatkan Moel akan hubungan dan ikatan yang lebih besar dibaliknya.

THE MOGUS COLONY (KELUARGA & TEMAN)

Sosok keluarga dan teman, merupakan sosok paling penting bagi Moel dalam berkarya. Moel lebih menyukai kegiatan berkumpul/ bersilahturahmi dan membawa kebaikan bagi banyak orang. Hal ini tercermin dalam karya dan pameran (pada kali ini ia sebut syukuran).
Moel ‘bersilahturahmi’ dengan teman-temannya, untuk mengumpulkan drawing sosok gurita sesuai persepsi dan imaginasi masing-masing. Teman-teman tersebut berasal dari teman pergaulan ketika masa kuliah di UPI dan beberapa seniman lainnya yang sengaja diminta untuk berkontribusi.
Hasil ‘silahturahmi’-nya ini ia jadikan buku yang kemudian ia bagi-bagikan kembali.

Moel dan Pamerannya (Syukurannya)

Entah apa sebutannya untuk kegiatan yang sedang berlangsung di “Galeri Gerilya” saat ini. Pameran yang dibarengi dengan kegiatan syukuran, atau syukuran yang dibarengi kegiatan pameran? Entahlah, namun konsep ini cukup menarik bagi seorang seniman untuk berpameran tunggal.
Pameran ini terbagi atas 3 (tiga) ruang instalasi karya sebagai penanda babak perjalanan Moel atas rasa syukur yang ia terima.
Ruangan pertama membawa kita pada dunia Moel. Dunia ilusi bawah air yang dipenuhi monster gurita. Ketenangan sekaligus gelombang misteri dalam lautan memberi kedamaian tersendiri bagi Moel. Dalam ruangan ini terdapat hubungan kebersamaan yang kuat antar MOGUS meski mereka terpisah dan berdiri sendiri. Mogus dalam ruang ini menggambarkan keluarga yang melatarbelakangi proses berkarya Moel.
Ruangan kedua, Moel menghadirkan MOGUS-MOGUS yang sedang saling berinteraksi. MOGUS-MOGUS yang sedang berkumpul ini merupakan terjemahan dari sosok teman-teman Moel yang juga membawa kedamaian dan keakraban bagi Moel.
Ruangan ketiga, merupakan ruangan terakhir yang menutup kegiatan pameran (sukuran) ini menjadi lebih sempurna. Setelah semua rasa syukur diutarakan, Moel seolah membagikan dirinya kepada seluruh penikmat karya seni pada pameran kali ini.
Moel membagi dirinya sebagai pelayanan mengucap doa dan berkah, sebagai pengingat supaya kita tidak lupa untuk turut serta mengucap syukur atas pencapaian-pencapaian yang sudah kita diterima.
Dalam syukurannya Moel mengajak kita untuk bersyukur juga.

Maradita Sutantio
The writer also known as progressive artist, graphic designer, curator, cyclist, gardener, and baker. One of her long term projects is to create a museum of fiber plants, and natural dye plants.
www. maradita.wordpress.com