Rabu, 28 Mei 2008

Surat Perayaan Rasa Takut

Dear The Mogus,


Sebelumnya kusampaikan selamat pada keluarga The Mogus yang akhirnya bisa tampil bersama-sama dalam pameran ini. Aku acungkan semua jempolku untuk Moelyana, orang di belakang ide dan kelahiran kalian sekeluarga. Aku teringat saat pertama kali prototipe The Mogus lahir. Saat itu Crafty Days #2 Tobucil & Klabs, Desember 2008, Moel membuat anggota pertama The Mogus yang diberi nama Mogu Sigarantang. Anggota keluarga pertama ini tentunya masih banyak kekurangannya. Moel membuatnya dari pompom benang bulky. Moel saat itu belum menemukan cara mengikat untuk menyatukan pompom-pompom itu dengan kuat. Akibatnya, Mogu Sigarantang cukup retan rusak dan ‘brudul’ . Kegigihan Moel untuk  membentuk keluarga monster yang sakinah mawadah dan warohmah, membuat Moel pantang menyerah untuk terus mencoba menemukan formula monster gurita yang tangguh seperti The Mogus yang ada sekarang.

Ketika Mogu Sigarantang dibuat muncul pertanyaan ‘Moel, kenapa ini monsternya malah lucu dan ga ada ngeri-ngerinya sama sekali?’ Moel saat itu menjawab : ‘Mogu itu monster yang bersahabat dan bisa jadi teman bermain.’ Dan memang,  selama aku mengenal Moel sejak tahun 2003 lalu, Moel selalu menjadi teman bermain yang menyenangkan dan bisa diandalkan. Belum pernah sekalipun aku melihat dia membuat sesuatu yang benar-benar brutal dan mengerikan. Moel selalu membuat hal-hal yang menyeramkan justru jadi menyenangkan, The Mogus adalah buktinya. Meski diniatkan sebagai keluarga monster gurita, namun The Mogus tampak rapi dan ceria ini membuatku melihat penafsiran lain yang menjawab pertanyaan tentang monster lucu dan cerah ceria ini.

 Selama ini kita selalu mengidentikan monster dengan ketakutan yang cenderung dihindari meski sering tidak kita sadari, kita memeliharanya. The Mogus bagiku seperti simbol bahwa ketika apa yang menjadi monster menakutkan  di luar dan di dalam diri kita, justru tidak perlu dihindari. Ketika dia bisa kita hadapi, kita bisa menjadikannya teman bermain yang asyik. Justru ketika kita bermain tanpa rasa takut, kita akan kehilangan  sesasi permainan itu sendiri. Bermain tanpa rasa takut lantas menjadi berbahaya karena kita kemudian tidak mengetahui batas terjauh sampai mana permainan itu bisa kita jalani. Justru ketika rasa takut menjadi batas terjauh, dia akan menjadi kontrol yang membuat kita belajar untuk menghadapinya dengan santai. Seringkali ketakutan itu terasa  sangat menakutkan ketika dilihat dari jauh karena bayangan ikut memperbuas ketakutan itu. Namun ketika ketakutan itu kita dekati, kita akan menemukan cara untuk berteman dengannya. Yang menjadi penting di sini adalah bagaimana cara kita mengendalikan ketakutan-ketakutan itu.

Kurasa aku berterima kasih pada kalian, para Mogu. Lewat pameran ini aku seperti diajak untuk  menyadari bahwa monster dalam diri kita tidak selalu berwujud mengerikan. Monster yang menjadi cermin ketakutan itu bisa menyaru dalam kecerahan dan keceriaan. The Mogus seperti mengingatkan bahwa selalu ada dua sisi  dari setiap hal di dunia ini, karena begitulah kehidupan ini diciptakan sebagai aksi dan reaksi, baik dan buruk dan seterusnya. Dipenghujung suratku, aku ingin mengatakan pada Moel, bahwa apa yang dilakukannya selama ini sangat menginspirasiku. Moel mungkin tidak peduli apakah The Mogus disebut sebagai karya seni atau bukan, karena buatku pun yang penting bukan itu.Ketekunan dan komitmen Moel untuk terus menerus berkembang dalam penguasaan teknik dan konsep, juga kegigihannya untuk mendisiplinkan diri dalam belajar, kukira sangat menginspirasi. Pameran ini menjadi perayaan dari perkenalan aku, kamu, kita semua pada Moel dan ketakutan-ketakutan berwujud moster-monster ceria bernama keluarga The Mogus.
Salam monster dariku,

Tarlen Handayani
Penulis adalah pendiri dan koordinator Tobucil & Klabs
www.tobucil.blogspot.com